Jumat, 01 Oktober 2010

keterampilan bebahasa ... itu penting !

PENGERTIAN DAN MANFAAT KETERAMPILAN BERBAHASA

Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan berbahasa yang telah kita miliki,meskipun setiap orang memiliki tingkatan atau kualitas yang berbeda. Orang yang memiliki keterampilan berbahasa secara optimal setiap tujuan komunikasinya dapat dengan mudah tercapai. Sedangkan bagi orang yang memiliki tingkatan keterampilan berbahasa yang sangat lemah,sehingga bukan tujauannya yang tercapai tetapi kemungkinan terjadi kesalah pahaman yang hanya akan membuat suasana mejadi tidak diharapkan.


            Keterampilan berbahasa sangat kompleks dan luas. Bila kita cermati lebih jauh hampir setiap bidang kehidupan manusia tidak pernah luput dari aspek kebahasaan. Memang, dalam hubungannya dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, setiap bidang kehidupan tidak pernah lepas dari peranan bahasa ini. Bahasa harus komunikatif. Ini berarti mudah dipahami oleh pemakai bahasa sebagai pemberi dan penerima pesan. Penyajian materi ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa keterampilan berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

            Dalam kajian akademik dan referensi-referensi ilmiah lainnya, untuk memudahkan pengkajiannya maka ruang lingkupnya dikelompokkan ke dalam empat aspek, yakni:
·         Keterampilan menyimak
·         keterampilan berbicara
·         keterampilan menulis
·         keterampilan membaca
Mari perhatikan kehidupan masyarakat. Anggota-anggota masyarakat saling berhubungan dengan cara berkomunikasi. Komunikasi dapat berupa komunikasi satu arah, dua arah, dan multi arah. Komunikasi satu arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan kepada orang lain, sedangkan penerima pesan tidak menanggapi isi pesan tersebut. Misalnya, khotbah jumat dan berita di TV atau radio. Komunikasi dua arah terjadi ketika
pemberi pesan dan penerima pesan saling menanggapi isi pesan. Komunikasi multi arah terjadi ketika pemberi pesan dan penerima pesan yang jumlahnya lebih dari dua orang saling menanggapi isi pesan (Abd. Gofur, 1: 2009)

            Dalam kegiatan komunikasi, pengirim pesan aktif mengirim pesan yang diformulasikan dalam lambang-lambang berupa bunyi atau tulisan. Proses ini disebut dengan encoding. Selanjutnya si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang-lambang tersebut menjadi bermakna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh. Proses ini disebut dengan decoding.



Lisan Tulisan
Reseptif
Menyimak
Membaca
Produktif
Berbicara
Menulis
·         Aspek Keterampilan Berbahasa bersifat Reseptif ( menerima ) :
a. Menyimak
b. Membaca

·         Aspek Keterampilan Berbahasa bersifat Produktif ( menghasilkan ) :
a. Berbicara
b. Menulis


1.      KETERAMPILAN MENYIMAK

Keterampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Dalam kehidupan sehari- hari, kegiatan menyimak ini menyita hampir 45% waktu berkomunikasi kita. Hal ini pernah dikemukakan oleh Rankin ( 1929) dalam survey yang dilakukan mengenai penggunaan waktu untuk ke empat keterampilan berbahasa terhadap 68 orang dari berbagai pekerjaan dan jabatan. Selama kira- kira 2 bulan,  ke 68 orang tersebut diamati setiap 15 menit dari hari jaganya. Hasil menunjukkan:

1.    Menulis    9 %
2.    Membaca    16 %
3.    Berbicara    30%
4.    Menyimak    45%

Secara berturut-turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya dimulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kegiatan menyimak diawali dengan mendengarkan, dan pada akhirnya memahami apa yang disimak. Untuk memahami isi bahan simakan diperlukan suatu proses berikut; mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi atau menafsirkan, memahami, menilai, dan yang terakhir menanggapi apa yang disimak.
mendengarkan yaitu masuknya informasi atau ujaran ke telinga, lalu tahap memahami yaitu kemudian masuk ke otak informasi tersebut dipahami makna secara sempit, lalu tahap menginterpretasi yaitu menafsirkan ujaran secara keseluruhan, dilanjutkan dengan tahap mengevaluasi yaitu menilai informasi tersebut berdasarkan benar atau salah, dan terakhir tahap menanggapi yaitu respon berupa reaksi seperti ucapan selamat dan lain-lain. Contohnya ketika orang mendengar seseorang yang mengatakan bahwa sanak keluarganya telah meninggal karena terkena musibah banjir bandang, maka orang yang mendengarkan akan mengerti makna dari ucapan-ucapannya dan maksudnya, lalu akan timbul rasa simpati sehingga dia mengucapkan “aku turut berduka cita atas peristiwa tersebut”
Oleh karena itu menyimak dapat diartikan proses besar mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, dan interpretasi untuk mendapatkan informasi, memahami isi pesan dan memahami ujaran yang disampaikan oleh sang pembicara. Proses pembelajaran dalam menyimak sendiri memerlukan perhatian yang serius, banyak orang mendefinisikan jika menyimak hampir sama artinya dengan mendengar. Namun pada kenyataannya kegiatan tersebut, sangatlah jauh berbeda. Menurut pendapat Tarigan ( 1994 : 27 ) , “ Pada kegiatan mendengar mungkin si pendengar tidak memahami apa yang didengar. Pada kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan, tetapi belum diikuti unsur pemahaman karena itu belum menjadi tujuan. Dari definisi Tarigan di atas saja, sudah terlihat bahwa tingkat konsentrasi tinggi seseorang sangatlah dibutuhkan dalam proses menyimak.
suasana menyimak
·         bersifat defensive (bertahan) yaitu bertahan dari ujaran-ujaran sang pembicara, yaitu:
a. evaluatif: ujaran  pembicara yang memancing penilaian dari penyimak, contoh”saya akan menunjukan kepada anda, apakah anda orang yang pintar atau tidak, orang yang sudah mengerti atau belum, orang yang cukup cerdas atau tidak”
b. mengawasi: ujaran yang membuat si penyimak mengontrol benar atau tidaknya ujaran yang disampaikan. Contohnya, teman-teman saya ini adalah orang yang cerdas, berpengalaman luas, baik hati, jujur, tidak mementingkan kepentingan pribadi, dan mempunyai jiwa kpemimpinan yang tinggi, sehingga sepantasnya anda memilih saya menjadi ketua BEM di universitas ini, karena saya akan beriusaha dan pasti bisa memajukan universitas ini”
c. strategis: ujaran pembicara yang membuat pendengar memasang kuda-kuda/pertahanan/siasat yang strategis. Contoh: saudara-saudara sudah lama saya memikirkan bagaimana caranya agar saudara-saudara semua dapat mengatasi musibah ini dengan cara yang saya lakukan. Sudah  tidak ada keraguan lagi cara yang saya lakukan. Oleh sebab itu ikutilah cara yang saya lakukan ini, agar saudara mendapat manfaat dan keuntungan terhindar dari musibah banjir lagi, jangan ragu dan sangsi lagi, yakinlah untuk mengikuti cara saya.
d. Superior: ujaran pembicara mencerminkan rasa tinggi hati, merasa lebih unggul dari orang lain dalam segala hal. Contoh: kamu harus tau, harus sadar, bahwa kamu tidak ada apa-apanya disbanding aku. Lihat saja akuorang kaya banyak harta sedangkan kamu miskin tidak punya apa-apa, aku selalu berpakaian mahal dan keren sedangkan baju kamu murah dan jelek, lihat wajahmu  yang  jelek itu sedangkan wajah  saya ganteng luar biasa, terus aku selalu dihormati dan disegani orang sedangkan kamu hina sekali. Apakah kamu tidak sadar akan  itu semua? Kau dan aku ini bagai langit dan bumi.
e. Netral: ujaran pembicara bersifat netral, tidak memihak golongan atau pihak tertentu. Contoh: saudara-saudara saya tidak pernah memperhatikan msalah mereka, karena bagi saya masalah saya sendiri saja sudah cukup jadi tidak perlu lah mengurusi masalah orang lain.
f. Pasti dan tentu: ujaran  pembicara membuat penyimak harus memilih salah satu alas an yang tepat atau pasti. Contoh: kamu harus berikan jawabannya sekarang dengan tegas dan jelas! Kamu pilih akau atau dia? Cepat jawab!
·         Bersifat  suportif: mendukung atau menunjang
a. Deskripsi: ujaran pembicara mendeskripsikan lebih banyak & menginginkan pendengar mengetahui lebih banyak. Contoh: tolong sampaikan kepada saya, kemajuan-kemajuan apalagi yang sudah dicapai sekolah ini: dalam bidang prstasi ekskulnya, prestasi belajarnya, sarana-prasarananya, dan bidang ketenagaannya. Saya yakin anda dapat memberikan data-data tersebut, karena anda lebih tahu mengenai hal itu.
b. Orientasi: ujaran pembicara berorientasi terhadap suatau permasalahan & meminta pendengar untuk mengungkapkannya. Contoh: tadi telah saya kemukakan tentang berbagai kemajuan sekolah ini. Sekarang tolong katakana kepada saya menurut anda masalah apa saja yang ada baik dalam bidang prestasi ekskul, prestasi belajar, sarana-prasarana, dan bidang ketenagaan. Siapa tau msalah itu bisa dipecahkan bersama, dan yang tidak akan saya usahakan penjelsannya.
c. Spontanitas: ujaran pembicara bersifat spontanitas/langsung. Hal ini membuat penyimak mudah menangkap isi pembicaraan. Saudara-saudara dewan guru tadi telah saya kemukakan mengenai kesejahteraan guru. Sekarang apa yang dapat kita lakukan mengenai kesejahteraan itu, khususnya mengenai kenaikan gaji, pengurangan  jam  mengajar sesuai kondisi dan keadaan serta maslah pemutusan/perpanjangan kontrak! Mari kita pikirkan bersama hal ini. Karena tanpa dewan guru yang sejahtera mustahil sekolah ini bisa maju.
d. Empati: ujaran pembicara mencerminkan ketegasan terhadap sesuatu hal. Contoh: kita tidak mau dihina, dicaci, serta dimaki tanpa alasan yang benar. Kita pasti marah karena ini benar-benar penghinaan besar, dianggap rendah tak bisa apa-apa! Sungguh keji perbuatan mereka itu bukan? Kta tidak mau diperlakukan seperti ini, karena kita makhluk Tuhan yang punya kedudukan sama di hadapanNya.
e. Ekualitas atau kesetaraan: ujaran pembicara mencerminkan persamaan hak antar sesama. Contoh: saudara-saudara mari kita pikirkan bersama, apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan mutu kwalitas pendidikan di sekolah kita ini.
f. Profesionalisme: ujaran pembicara mencerminkan rasa ketepaan dan kejelasan suatu hal. Contoh: melihat kemunduran prestasi belajarnya, maka cara yang terbaik adalah dengan memberikannya gratis bayaran sekolah! Masalah prestasinya jangan kawatir lagi, semester berikutnya pasti belajar dan prestasinya akan kembali meningkat.







Menyimak memiliki jenis-jenis sebagai berikut:



Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
a. Sumber suara
b. Cara penyimak bahan yang disimak
c. Tujuan menyimak
d. Taraf aktivitas penyimak

 Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
2) Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi

 Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Menyimak ekstensif (extensive listening)
    Menyimak ekstensif ialah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian, ketentuan,     dan   ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruh secara garis besarnya saja.
    Menyimak ekstensif meliputi
    a) Menyimak sosial
    b) Menyimak sekunder
    c) Menyimak estetik

2) Menyimak Intensif
    Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan     ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.
    Menyimak intensif meliputi:
    a) Menyimak kritis
    b) Menyimak introgatif
    c) Menyimak penyelidikan
    d) Menyimak kreatif
    e) Menyimak konsentratif
    f) Menyimak selektif

Tujuan menyimak berdasarkan Tidyman & butterfield membedakan  menyimak menjadi:
    a) Menyimak sederhana
    b) Menyimak diskriminatif
    c) Menyimak santai
    d) Menyimak informatif
    e) Menyimak literatur
    f) Menyimak kritis

Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:
    a) Kegiatan menyimak bertarap rendah
    b) Kegiatan menyimak bertaraf tinggi

Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak

1. Unsur Pembicara
    Pembicara haruslah menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara sistematis dan     kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik / bervariasi

2. Unsur Materi
    Unsur yang diberikan haruslah actual, bermanfaat, sistematis dan seimbang

3. Unsur Penyimak/Siswa
    a. Kondisi siswa dalam keadaan baik
    b. Siswa harus berkonsentrasi
    c. Adanya minat siswa dalam menyimak
    d. Penyimak harus berpengalaman luas

4. Unsur Situasi
    a. Waktu penyimakan
    b. Saran unsur pendukung
    c. Suasana lingkungan 

Gangguan-gangguan menyimak:
1)  dari dalam: berupa fikiran-fikiran dari si penyimak sendiri, Keegosentrisan, Keengganan ikut terlibat, Ketakutan akan perubahan, Keinginan menghindari pertanyaan, Puas terhadap penampilan eksternal, Pertimbangan yang premature, Kebingungan semantik.
2) dari luar: karena hujan, berisik, suara mobil, dll. Cara pencegahannya adlah konsentrasilah pada ujaran-ujaran sang pembicara agar butir-butir pesan dapat ditangkap, dicerna, dan dipahami.
Tujuan atau fungsi menyimak:
a. Untuk belajar, contoh saat belajar di kelas, seminar, kuliah, dll
b. Untuk menikmati keindahan audial, contoh mendengarkan lagu di aradio, suara burung, suara qori, dll
c. Untuk mengevaluasi, contoh dipersidangan, diskusi, dll
d. Untuk mengapresiasi, yaitu menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu. contoh setelah membaca novel timbul rasa suka pada penulisnya, pembacaan puisi, cerita, musik dan lagu.
e. Untuk mengkomunikasikan ide-ide, contoh diskusi
f. Untuk membedakan bunyi-bunyi dgn tepat, contoh saat mengajar membaca Al-quran
g. Untuk memecahkan masalah, contoh berbicara dengan psikolog, guru agama.
h. Untuk meyakinkan, untuk meyakinkan diri sendiri.
Menyimak tidak hanya pada ujaran tetapi juga pada gerakan, penglihatan, dan perasaan juga termasuk menyimak. Menyimak ini yaitu dengan mencari petunjuk-petunjuk non verbal seperti gaya, mimic, gerak-gerik, dan gerakan pembicara merupakan bagain yang vital dari pesannya. Bersiap-siap pada tanda non verbal ini akan mambantu memahami bagaimana gagsan itu terasa bagi pembicara. Akan membatu juga menilai ketulusan hari, kejujuran, pendirian, dan integritas umum pembicara yang mungkin saja mempunyai kepentingan khusus dalam menyimak kritis. Contohnya dalam debat, atau dipersidangan.




2.      KETERAMPILAN MEMBACA

Membaca adalah proses pemahaman terhadap lambang-lambang tulisan yang diungkapkan penulis melalui sebuah bacaan. Membaca merupakan salah satu kegiatan untuk mendapatkan informasi. Pada umumnya membaca bertujuan memahami isi wacana atau bacaan. Pada awalnya membaca merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan aktivitas membaca masuk melalui indra penglihatan, atau rabaan tangan untuk tunanetra. Penglihatan adalah alat untuk menyerap informasi tulis dan meneruskannya ke otak. Kemudian otak mengolah informasi tersebut. Oleh karena itu, betapa pun cerdas dan siapnya seseorang, tatkala ada gangguan pada kedua inderanya itu, dia akan kesulitan untuk mengenali tulisan dan memahami maknanya. Kemampuan sensoris ini merupakan prasarat awal untuk dapat mendeteksi huruf atau rangkaian huruf, tanda baca, dan berbagai lambang tulis lainnya.

Lambang tulis itu memberikan rangsangan kepada pembaca untuk menanggapinya dengan makna yang berada di balik symbol-simbol tulis tersebut. Namun demikian, pemaknaan itu tidak semata-mata diperoleh dari lambing itu. Pembaca memaknai lambang tulis itu ketika melakukan aktivitas baca berdasarkan pengetahuannya tentang bahasa tulis, latar belakang budaya, kematangan dan kepribadiannya. Oleh karena itu tidak heran jika proses dan hasil baca tulisan dapat berbeda satu sama lain. Sebenarnya kegiatan membaca ini biasa juga disebut sebagai tindakan aktif karena pembaca aktif membangun makna, menerima, menolak, membandingkan, dan meyakini isi informasi dalam tulisan.

Hakikat Membaca

Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan, “Buku adalah Gudang Ilmu”. Untuk mengakses atau memasuki gudang ilmu itu kita memerlukan sebuah kunci. Membaca inilah yang merupakan kunci untuk membuka gudang ilmu pengetahuan yang akan kita serap.

Seorang filsuf dari Cina Lin Yut ‘Ang mengatakan bahwa seorang yang tidak memiliki kebiasaan membaca ia akan terpenjara dari segi ruang dan waktu. Ia hanya akan mengetahui apa yang ada di sekitar dirinya. Dan orang tersebut juga tidak akan mampu mengakses informasi-informasi masa silam serta prediksi-prediksi masa depan.

Sebaliknya orang yang memiliki kebiasaan membaca akan dapat berkomunikasi dengan pemikir-pemikir besar dunia,  yang bahkan berasal dari dimensi waktu dan ruang yang jauh berbeda. Dengan membaca kita bisa menggaul-akrabi pemikiran-pemikiran Socrates, Aristoteles, Albert Kasmus, dan bahkan Plato.

Hakekat kegiatan membaca adalah pemahaman. Teknik apapun yang dianjurkan oleh para pakar linguis, pada akhirnya kita sebagai pelaku kegiatan membaca dituntut untuk bisa memahami isi bacaan yang kita baca. Membaca tanpa pemahaman adalah sia-sia.

Membaca ada dua tingkatan:
a.    Membaca Tingkat Dasar
Kemampuan menyuarakan lambing-lambang tulisan yang disampaikan penulisnya.
b.    Membaca Tingkat Lanjut
Kemampuan memahami lambing-lambang tulisan yang diungkapkan penulisnya melalui sebuah bacaan.

Jenis-jenis membaca ini antara lain:
Ditinjau dari terdengar atau tidaknya suara sewaktu membaca, makna proses membaca dapat dibagi sebagai berikut:
1.   Membaca nyaring
Membaca nyaring adalah cara membaca dengan bersuara atau cara     membaca yang dilakukan dengan lisan.

2.   Membaca dalam hati (silent reading)
Membaca dalam hati adalah cara membaca yang dilakukan dengan tidak   dikeraskan, yang hanya menggunakan kegiatan visual.

Pada saat membaca dalam hati, perlu diperhatikan:
1.   Mata kita gunakan untuk melihat dan menyapu halaman-halaman bacaan      dengan cepat.
2.   Ingatan berperan sebagai penyimpanan dan penyaring isi bacaan yang kita tangkap lewat mata.

Berdasarkan tujuannya, membaca diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif merupakan cara membaca yang dilakukan terhadap sebanyak-banyaknya teks dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Tujuan membaca ekstensif adalah
a. Untuk memperoleh pemahaman umum, atau
b. Untuk menemukan hal tertentu dari suatu teks.
Secara umum membaca ekstensif dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
a.       Mensurvey halaman judul, kata pengantar, daftar isi, dan indeks.
b.       Men-skim halaman demi halaman teks dengan cepat Untuk menemukan gagasan pokok dari halaman-halaman teks itu atau
c.        Melirik setiap halaman teks hanya untuk menemukan kata atau keterangan tertentu yang diinginkan.
  1. Membaca Intensif
Membaca intensif merupakan cara membaca yang dilakukan secara seksama terhadap rincian-rincian suatu teks atau bacaan.

Berdasarkan tingkat kecepatannya, membaca terbagi ke dalam beberapa jenis.
  1. Membaca reguler
Membaca reguler adalah cara membaca dengan kecepatan relatif lambat. Cara ini dilakukan dengan membaca baris demi baris.
  1. Membaca sekilas
Membaca sekilas dilakukan melihat secara sekilas bagian-bagian teks, terutama judul, daftar isi, kata pengantar, atau hal-hal umum lainnya.

  1. Membaca cepat (skimming)
Membaca cepat dilakukan dengan lebih cepat. Pandangan mata langsung meluncur, menyapu halaman-halaman teks. Teknik ini digunakan ketika membaca surat kabar dengan tujuan untuk,
a. Mencari angka-angka statistik.
b. Melihat acara siaran televisi, dan
c. Melihat daftar perjalanan kereta api
Di samping itu, cara membaca ini tepat juga digunakan ketika: a) mencari nomor telepon, b) mencari kata pada kamus, c) mencari arti pada indeks

  1. Membaca kecepatan tinggi (warp speed)
Adalah cara membaca suatu teks dengan kecepatan tinggi dengan disertai pemahaman yang tinggi pula.



Untuk mengukur kecepatan membaca, seorang pembaca harus mencocokkan tabel berikut ini.

Waktu
Kecepatan Membaca (Kata/Menit)
1 menit 00 detik
1 menit 10 detik
1 menit 20 detik
1 menit 30 detik
1 menit 40 detik
2 menit 00 detik
2 menit 10 detik
2 menit 20 detik
2 menit 30 detik
2 menit 40 detik
2 menit 50 detik
3 menit 00 detik
3 menit 10 detik
3 menit 20 detik
3 menit 30 detik
3 menit 40 detik
3 menit 50 detik
4 menit 00 detik
589
505
442
382
321
295
272
252
236
221
208
196
186
177
168
161
153
147

 Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Membaca

1.    Kadang kita terjebak dalam penilaian diri sendiri saat membaca. Rasanya memahami yang Anda baca, tetapi ketika harus mengungkapkan kembali ternyata masih banyak yang belum paham dan bahkan terlupakan.
2.    Sebenarnya beberapa wancana tidaklah terlalu sukar. Karenanya, waktu tempuh baca Anda seharusnya tidak terlalu lama.
3.    Kalau Anda membaca tanpa tujuan, biasanya perhatian terhadap bacaan kurang terfokus. Keadaan ini membuat kita kesulitan menangkap ide-ide penting bacaan.
4.    Kalau Anda membaca teks, huruf demi huruf, kata demi kata, atau kalimat demi kalimat, ditambah lagi sewaktu membaca mulut Anda bersuara atau bergumam, bibir bergerak-gerak, atau kepala bergerak ke kiri dan ke kanan, maka kemungkinan Anda akan menghabiskan banyak waktu dalam menyelesaikan bacaan. Dengan demikian Anda dapat dikategorikan sebagai pembaca yang lambat.
5.    Kesulitan lain dapat muncul dalam hal konsentrasi, membaca balik bagian-bagian yang semestinya sudah dibaca, sukar menangkap gagasan utama, kesulitan mengingat bagian-bagian penting yang telah dibaca, dan sebagainya.


3.      KETERAMPILAN BERBICARA

Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengekspresikan pikiran atau ide melalui lambang-lambang bunyi. Seorang pembicara yang handal dan terlatih mampu memilih kata-kata yang efektif, dan gaya yang tepat sehingga mudah dipahami dan bahkan dapat memukau pendengarnya.
Seorang ahli pidato (orator) tentulah contoh dari pembicara yang handal. Presiden kita yang pertama, Bapak Soekarno merupakan contoh pembicara (orator) yang handal. Melalui pilihan kata-katanya, gaya bicaranya, alunan olah vokalnya, sehingga mampu memukau pendengarnya untuk tetap menantinya sampai ucapan kata-kata terakhirnya.
Lain halnya bila yang kita dengar dari pembicara yang miskin gaya bahasa, pilihan katanya yang monoton, kurang wawasan, dan tidak focus, tentulah pendengar cenderung bosan untuk mengapresiasi pembicaraannya.
Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik mampu memberikan contoh agar dapat ditiru oleh penyimak yang baik. Pembicara yang baik mampu memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan.
Manusia adalah mahluk sosial. Manusia baru akan menjadi manusia bila ia hidup dalam lingkungan manusia. Kesadaran betapa pentingnya berbicara dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat dapat mewujudkan bermacam aneka bentuk. Lingkungan terkecil adalah keluarga, dapat pula dalam bentuk lain seperti perkumpulan sosial, agama, kesenian, olah raga, dan sebagainya.
Setiap manusia dituntut terampil berkomunikasi, terampil menyatakan pikiran, gagasan, ide, dan perasaan. Terampil menangkap informasi-informasi yang didapat, dan terampil pula menyampaikan informasi-informasi yang diterimanya.
Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. Contohnya dalam lingkungan keluarga, dialog selalu terjadi, antara ayah dan ibu, orang tua dan anak, dan antara anak-anak itu sendiri.
Di luar lingkungan keluarga juga terjadi pembicaraan antara tetangga dengan tetangga, antar teman sepermainan, rekan kerja, teman perkuliahan dan sebagainya. Terjadi pula pembicaraan di pasar, di swalayan, di pertemuan-pertemuan, bahkan terkadang terjadi adu argumentasi dalam suatu forum. Semua situasi tersebut menuntut agar kita mampu terampil berbicara.
Berbicara berperan penting dalam pendidikan keluarga. Tata krama dalam pergaulan diajarkan secara lisan. Adat kebiasaan, norma-norma yang berlaku juga seringkali diajarkan secara lisan. Hal ini berlaku dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.

Macam-Macam Kegiatan Berbicara Di Depan Umum
Berdasarkan lingkup situasinya ada dua macam kegiatan berbicara di depan umum, yakni:
a.    Lingkup Resmi: adalah lingkup Dinas yang memiliki kelayakan dan formalitas tertentu. Dalam lingkup ini ada aturan tertentu yang relative lebih ketat, misalnya pakaian, situasi, tema, kosa kata, dan gaya berbicara dikemas dalam lingkup resmi.
Contoh: Berpidato.
b.    Lingkup NonResmi: adalah lingkup di mana kegiatan berbicara lebih banyak kelonggarannya. Situasinya lebih familier, bahasanya bebas, pakaiannya tidak diatur, demikian pula format dan gaya pembicaraannya.
         Contoh: Ceramah

Cakupan Berbicara

Berdasarkan kegiatan komunikasi lisan, cakupan kegiatan berbicara sangat luas. Daerah cakupan itu membentang dari komunikasi lisan yang bersifat informal sampai kegiatan komunikasi lisan yang bersifat formal. Semua kegiatan komunikasi lisan yang melibatkan pembicara dan pendengar termasuk daerah cakupan berbicara.
Daerah cakupan berbicara meliputi kegiatan komunikasi lisan sebagai berikut,
(1)     berceramah,
(2)     berdebat,
(3)     bercakap-cakap,
(4)     berkhotbah,
(5)     bertelepon,
(6)     bercerita,
(7)     berpidato,
(8)     bertukar pikiran,
(9)     bertanya,
(10) bermain peran,
(11) berwawancara,
(12) berdiskusi,
(13) berkampanye,
(14) menyampaikan sambutan, selamat, pesan,
(15) melaporkan,
(16) menanggapi,
(17) menyanggah pendapat,
(18) menolak permintaan, tawaran, ajakan,
(19) menjawab pertanyan,
(20) menyatakan sikap,
(21) menginformasikan,
(22) membahas,
(23) melisankan (isi drama, cerpen, puisi, bacaan),
(24) menguraikan cara membuat sesuatu,
(25) menawarkan sesuatu,
(26) meminta maaf,
(27) memberi petunjuk,
(28) memperkenalkan diri,
(29) menyapa,
(30) mengajak,
(31) mengundang,
(32) memperingatkan,
(33) mengoreksi,
(34) tanya-jawab.

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Pembicara
Baik penceramah maupun orator (ahli pidato), yang ingin sukses dalam kegiatan berbicara harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.    Internal:
٭ Vokal : 1. tidak monoton,
              2. jelas bervariasi,
              3. sesuai dengan karakter materi.
٭ Penampilan : 1. menarik simpati pendengar,
                       2. membina kontak mata dengan pendengar,
                       3. mimiek, ekspresi yang tidak berlebihan,
                       4. gerakan anggota tubuh yang sesuai.
٭ Materi : 1. menguasai materi,
               2. sesuai dengan tingkat pendengar,
               3. penyampaian harus sistematis,
               4. disertai dengan contoh yang “segar”



b.    Eksternal:
٭ Menganalisa Pendengar:
1.    Usia pendengar,
2.    Tingkat pendidikan pendengar,
3.    Gender (kalau perlu),
4.    Latar Budaya.
5.    Jumlah pendengar
      ٭ Situasi pembicaraan:
1.    Formal atau nonformal,
2.    waktu: pagi, siang, sore, malam.
3.    Tempat, in door, out door.

Langkah-Langkah Yang Harus Dipersiapkan Oleh Pembicara:
Sebelum kegiatan berbicara di depan umum dilaksanakan, ada beberapa pedoman yang harus dipertimbangkan:
1.    Tentukan tema pembicaraan,
Tema harus menarik, membangkitkan rasa ingin tahu, original, kekinian/ tidak usang.
2.    Mencari dan mempersiapkan materi / literature pemandu untuk menambah bobot pembicaraan. Jangan pernah membicarakan hal-hal yang Anda sendiri tidak memahaminya, karena Anda akan terlihat ‘bodoh’ dan kurang wawasan.
3.    Siapkan draf dan kisi-kisi pembicaraan secara sistematis. Ini akan mencerminkan pola pikir Anda yang teratur.
4.    Susun naskah pembicaraan yang lengkap.
5.    Latihanlah dengan cara membaca dan berimprovisasi secara berulang-ulang.
6.    Mintalah masukan/ pendapat dari teman tentang latihan penampilan Anda.
7.    Anda siap menjadi pembicara yang ‘handal’.                           



4.      KETERAMPILAN MENULIS

Kalau kita berbicara masalah sejarah dan pentingnya sebuah tulisan, tentunya kita sepakat bahwa sampai sekarang belum ditemukan secara pasti kapan sebuah tulisan itu ditemukan. Akan tetapi, apabila kita membicarakan masalah pentingnya sebuah tulisan, tentunya kita bisa menjawab sebagai bahan referensi, bahan dokumentasi, sumber ilmu, dan masih banyak lagi. Al-Quran pun masih tetap terjaga keaslihannya sampai saat ini karena adanya tulisan.
Sejarah suatu bangsa, sejarah manusia, sejarah sebuah ilmu pengetahuan, dapat diketahui karena adanya tulisan, meskipun pada saat itu bentuk dan media tulisan tidak secanggih saat ini. Kita bisa menemukan sejarah suatu bangsa dari tulisan-tulisan pada bebatuan, kulit kayu, maupun daun lontar. Misteri sejarah Mesir Kuno pun terkuak ketika pada tahun 1799, seorang serdadu Perancis menemukan sebuah batu bertulis di dusun Roseta tidak jauh dari muara Sungai Nil.
      Menulis merupakan sebuah kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Menulis merupakan kegiatan untuk menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dengan berfungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menulis merupakan kegiatan seseorang untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis agar bisa dipahami oleh pembaca. Seorang penulis harus memperhatikan kemampuan dan kebutuhan pembacanya.
            Kegiatan menulis sangat penting dalam pendidikan karena dapat membantu siswa berlatih berpikir, mengungkapkan gagasan, dan memecahkan masalah. Menulis adalah suatu bentuk berpikir, yang juga merupakan alat untuk membuat orang lain (pembaca) berpikir. Dengan menulis, seseorang siswa mampu mengkonstruk berbagai ilmu atau pengetahuan yang dimiliki dalam sebuah tulisan, baik dalam bentuk esai, artikel, laporan ilmiah, cerpen, puisi, dan sebagainya.
            Seorang penulis tidak saja harus menguasai prinsip-prinsip menulis, berwawasan dan berpengetahuan luas (memadai), menguasai kaidah-kaidah bahasa, terampil menyusun kalimat dalam sebuah paragraf, tetapi juga harus mengetahui prinsip-prinsip berpikir. Penulis harus memiliki berbagai informasi tentang apa yang akan ditulis. Informasi tersebut dapat diperoleh dari membaca dan mendengarkan dari berbagai sumber dan media informasi. Tidak ada seorang penulis pun yang  malas membaca.
pada sekitar tahun 845 M, para pemikir muslim telah banyak menghasilkan sebuah tulisan karena kegilaannya membaca. Ambil saja contoh Ar-Razi sebagai peletak dasar ilmu kimia yang telah menghasilkan lebih dari 220 judul buku. Begitu juga Ibnu Tamiyah yang tidak mau sedikit pun waktunya hilang hanya karena harus buang air besar. Beliau meminta muridnya untuk membacakan sebuah buku dengan suara nyaring ketika beliau berlama-lama di kamar kecil. Melalui kegetolannya dalam membaca, beliau berhasil menulis buku berjudul Al-Aqidah A-Wa’sithyiyyah.
Keterampilan menulis adalah kemampuan mengekspresikan pikiran melalui lambang-lambang tulisan. Keterampilan menulis ini termasuk ke dalam jenis keterampilan aktif, karena penulis aktif mengolah pesan (informasi) yang ingin disampaikan kepada pembaca.
keterampilan  ini relative lebih sulit karena melibatkan olah pikir, pilihan kata, susunan bahasa, gaya kepenulisan sehingga tidak terjadi “mis komunikasi” antara penulis dan pembacanya.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, ada perbedaan yang mendasar antara menulis dengan mengarang:
a.    Menulis: mengekspresikan pikiran melalui media tulisan dan bersifat ilmiah.
b.    Mengarang: mengekspresikan pikiran melalui media tulisan dan bersifat fiktif imajinatif.

Tujuan  Menulis

        Kalau Anda ingin menjadi seorang penulis, Anda tidak boleh egois. Anda tidak boleh  hanya berpikir ,siapa saya ?  Misalnya, mentang-mentang penulisnya seorang doktor, dia banyak menggunakan  istilah-istilah asing dalam  tulisannya. Dia juga senang menggunakan kalimat-kalimat kompleks agar terkesan  rumit. Padahal, dia sedang menulis tentang sebuah topik yang diperuntukkan pembaca pada tingkat anak-anak. Tentunya, tulisan  yang dihasilkan akan sulit dimengerti oleh pembacanya. Ingat, seorang penulis setidak-tidaknya memperhatikan tiga hal dalam  tulisannya, yaitu: (1) unsur informatif, (2) unsur pendidikan, dan (3) unsur hiburan. Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut diharapkan sebuah tulisan dapat digemari oleh pembacanya.
       Sebuah tulisan yang baik harus disesuaikan dengan berbagai situasi. Situasi yang dimaksud meliputi:
a. tujuan  menulis (perubahan yang diharapkan terjadi pada diri pembaca);
b. keadaan dan  tingkat  kemampuan pembaca (kelompok usia, terpelajar/tidak terpelajar,     pebisnis atau bukan);
c. keadaan yang terlibat dalam penulisan (waktu, tempat, kejadian atau peristiwa, masalah     yang memerlukan pemecahan, dan sebagainya.
       
Tujuan  menulis itu bermacam-macam bergantung  pada ragam  tulisan. Secara umum, tujuan  menulis dapat dikategorikan sebagai berikut.
a. Memberitahukan atau menjelaskan
            Tulisan yang bertujuan memberitahukan atau menjelaskan sesuatu biasa disebut dengan karangan eksposisi. Karangan eksposisi adalah karangan yang berusaha untuk menjelaskan sesuatu kepada pembaca dengan menunjukkan berbagai bukti-bukti konkret dengan tujuan untuk menambah pengetahuan pembaca. Pembaca yang belum mengenal pesawat tempur F 16 akan memahami tentang jenis pesawat ini setelah membaca karangan dengan judul Kecanggihan Pesawat F 16. Contoh lain karangan eksposisi, misalnya Proses Pembuatan Tempe, Peran Pelajar di era Global, dan Fungsi Teknologi Informasi bagi Siswa.

b. Meyakinkan atau mendesak
            Pernahkah Anda mendengar kalimat dalam sebuah diskusi kelas ‘Apa argumen Saudara?’ Arti argumen tersebut adalah alasan untuk meyakinkan seseorang. Alasan tersebut bisa berupa uraian, angka-angka, tabel, grafik, dan contoh-contoh. Dengan demikian tujuan tulisan ini adalah meyakinkan pembaca bahwa apa yang disampaikan penulis benar sehingga penulis berharap pembaca mau mengikuti pendapat penulis. Contoh karangan ini yang bisa siswa buat misalnya Jadilah Siswa Sukses, Beralihlah ke Quantum Learning, dan sebagainya.

c. Menceritakan Sesuatu
            Tulisan yang bertujuan untuk menceritakan suatu kejadian kepada pembaca disebut dengan karangan narasi. Karangan narasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  narasi ekspositoris (nyata) dan narasi sugestif (fiksi). Narasi ekspositoris misalnya sejarah, biografi, dan otobiografi, sedangkan narasi sugestif misalnya cerpen, novel, dan legenda. Contoh karangan narasi ekspositoris misalnya Peperangan Pangeran Diponegoro, Kisah Sukses Seorang Habibie, Sejarah Berdirinya SMA X, sedangkan narasi sugestif misalnya Robohnya Surau Kami, Legenda Suroboyo, dan Si Malin Kundang.

d. Mempengaruhi Pembaca
            Mungkin Anda pernah membaca janji-janji yang disampaikan oleh juru kampanye pada surat kabar atau majalah. Atau mungkin, Anda pernah membaca sebuah iklan dalam surat kabar atau majalah. Apa yang disampaikan juru kampanye dan pemasang iklan itu bertujaun untuk mempengaruhi atau membujuk pembaca agar pembaca mengikuti kehendak penulis dengan menampilkan bukti-bukti yang sifatnya emosi (tidak nyata). Kalimat-kalimat Pakailah Dove, maka kulit Anda akan putih dalam tiga minggu; atau Selalulah menggunakan pensil 2 B karena dengan pensil 2 B Anda pasti lulus UN merupakan kalimat yang ingin mempengaruhi pembaca. Kalimat tersebut bersifat persuasif sehingga disebut dengan karangan persuasi.

e. Mengambarkan Sesuatu
            Penulis karangan deskripsi tak ubahnya seorang pelukis. Yang membedakan keduanya adalah media yang digunakan, yaitu pena dan kanvas. Penulis karangan deskripsi bertujuan agar pembaca seolah-olah ikut merasa, melihat, meraba, dan menikmati objek yang dilukiskan penulis. Seseorang bisa seolah-olah melihat dan merasakan eloknya sebuah kantor pos setelah dia membaca karangan deskripsi dengan judul Keelokan Kantor Pos di Chicago. Perhatikan contoh karangan deskripsi berikut!
            Kamar tidurku tidaklah begitu luas. Ukurannya hanya 3 x 4 meter. Pintu kamarku berada di depan ruang keluarga. Kalau Anda masuk, sebelah kiri pintu tampaklah meja belajar. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang berukir yang terbuat dari besi dengan  kasur yang ditutupi seprai berwarna merah jambu. Sebelah kanan tempat tidur tampak sebuah lemari pakaian.
            Dalam kenyataannya, pengungkapan suatu tujuan dalam sebuah tulisan tidak dapat secara ketat, melainkan sering bersinggungan dengan tujuan-tujuan yang lain. Akan tetapi, biasanya dapat diusahakan ada satu tujuan yang dominan dalam sebuah tulisan yang memberi nama keseluruhan tulisan atau karangan tersebut.


            Ditinjau dari sudut kepentingan pengarang, menulis memiliki beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut. 
a. tujuan penugasan
            Pada umumnya para pelajar menulis sebuah karangan dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh guru atau sebuah lembaga. Bentuk tulisan ini biasanya berupa makalah, laporan, ataupun karangan bebas. 
b. tujuan estetis
            Para sastrawan pada umumnya menulis dengan tujuan untuk menciptakan sebuah keindahan dalam sebuah puisi, cerpen, maupun novel. Untuk itu, penulis pada umumnya memperhatikan benar pilihan kata atau diksi serta penggunaan gaya bahasa. Kemampuan penulis dalam mempermainkan kata sangat dibutuhkan dalam tulisan yang memiliki tujuan estetis. 
c. tujuan penerangan
            Surat kabar maupun majalah merupakan salah satu media yang berisi tulisan dengan tujuan penerangan. Tujuan utama penulis membuat tulisan adalah untuk memberi informasi kepada pembaca.
d. tujuan pernyataan diri
            Anda mungkin pernah membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan pelanggaran lagi, atau mungkin menulis surat perjanjian. Apabila itu benar, berarti Anda menulis dengan tujuan untuk menegaskan tentang apa yang telah diperbuat. Bentuk tulisan ini misalnya surat perjanjian maupun surat pernyataan.
e. tujuan kreatif 
            Menulis sebenarnya selalu berhubungan dengan proses kreatif, terutama dalam menulis karya sastra, baik itu berbentuk puisi maupun prosa. Anda harus menggunakan daya imajinasi secara maksimal ketika mengembangkan tulisan, mulai dalam mengembangkan penokohan, melukiskan setting, maupun yang lain.
f. tujuan Konsumtif
            Ada kalanya sebuah tulisan diselesaikan untuk dijual dan dikonsumsi oleh para pembaca. Penulis lebih mementingkan kepuasan pada diri pembaca. Penulis lebih berorientasi pada bisnis. Salah satu bentuk tulisan ini adalah novel-novel populer karya Fredy atau Mira W., atau yang lainnya.
Bagaimana Tulisan yang Baik?
            Pada prinsipnya, setiap penulis mengharapkan agar pembaca memberikan respons yang baik terhadap karyanya. Oleh sebab itu, mau tidak mau, penulis harus berusaha agar mampu menyajikan tulisannya dengan menarik dan mudah dipahami dengan harapan buku yang ditulis laku keras di pasaran atau bestseller. Untuk menjadikan buku yang kita tulis menjadi buku yang bestseller tentunya tidaklah mudah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Adapun ciri-ciri tulisan yang baik adalah  sebagai berikut.

a. Tulisan merupakan hasil rakitan dari berbagai bahan atau pengetahuan yang dimiliki oleh     penulis. Tulisan bukan hanya sekadar tempelan-tempelan bahan yang diperoleh penulis     dari berbagai literatur atau bahan bacaan. Apabila ini terjadi, penulis bukan sebagai     perakit, tetapi hanyalah sebagai pemulung. Buku yang hanya terkesan sebagai tempelan     bahan bukan merupakan tulisan yang baik. Tulisan tidak lancar dan seakan-akan     terpotong-potong mengakibatkan ketidakutuhan sebuah tulisan. 

b. Mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis dengan jelas dan tidak samar-samar,     memanfaatkan struktur kalimat dengan tepat, dan memberi contoh-contoh yang     diperlukan sehingga maknanya sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis. Dengan     demikian, pembaca tidak perlu bersusah-susah memahami makna yang tersurat dan     tersirat dalam sebuah tulisan.

c. Mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis secara meyakinkan, menarik minat     pembaca terhadap pokok pembicaraan, serta mendemontrasikan suatu pengertian yang     masuk akal. Dalam hal ini haruslah dihindari penyusunan kata-kata dan pengulangan     hal-hal yang tidak perlu. Setiap kata haruslah menunjang pengertian yang sesuai dengan     yang diinginkan oleh penulis.

d. Mencerminkan kemampuan penulis untuk mengkritisi masalah tulisannya yang pertama     serta memperbaikinya. Seorang penulis hendaknya bersedia dan mampu merevisi     naskah pertamanya. 

e. Mencerminkan kebanggaan penulis terhadap naskah yang dihasilkan. Penulis harus     mampu mempergunakan ejaan dan tanda baca secara saksama, memeriksa makna kata     dan hubungan ketatabahasaan dalam kalimat-kalimat sebelum menyajikan  kepada para pembaca. Penulis yang baik menyadari benar-benar bahwa hal-hal kecil     seperti itu dapat memberi akibat yang kurang baik terhadap karyanya.

Secara singkat, ciri-ciri tulisan yang baik sebagai berikut.
a. Jujur             : Jangan mencoba untuk memalsukan gagasan atau sebuah ide karena  Anda kurang memiliki pengetahuan yang cukup terhadap apa yang  akan Anda tulis.
b. Jelas              : Jangan   membingungkan   para   pembaca  dengan   kalimat - kalimat                            kompleks dan penjelasan yang bertele-tele.
c. Singkat          : Jangan   memboroskan  waktu  para   pembaca  dengan  penjelasan -                            penjelasan yang dirasa tidak perlu.
d. tidak monoton : Jangan menggunakan kalimat yang berpola sama. Panjang kalimat yang                            bervariasi dapat menghin dari kebosanan  pada diri pembaca.








HUBUNGAN ANTAR KEEMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA

1.   Hubungan Menyimak dengan Berbicara

            Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung. Menyimak bersifat reseptif, sedangkan berbicara bersifat produktif. Misalnya, komunikasi yang terjadi antar teman, antara pembeli dan penjual atau dalam suatu diskusi di kelas. Dalam hal ini A berbicara dan B mendengarkan. Setelah itu giliran B yang berbicara dan A mendengarkan. Namun ada pula dalam suatu konteks bahwa komunikasi itu terjadi dalam situasi noninteraktif, yaitu satu pihak saja yang berbicara dan pihak lain hanya mendengarkan. Misalnya Khotbah di masjid, dimana pemceramah menyampaikan ceramahnya, sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan.

2.   Hubungan Menyimak dan Membaca

            Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Penyimak maupun pembaca malakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsure-unsur bahasa yang berupa suara (menyimak), maupun berupa tulisan (membaca) yang selanjutnya diikuti diikuti dengan proses decoding guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide, atau informasi.

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1994:2) menuliskan hubungan penting antara Menyimak dan membaca antara lain:
1. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca diberikan oleh sang guru melalui bahasa lisan.
2. menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (verbalized learning)selama tahun-tahun permulaan di sekolah.
3. kosa kata atau perbendaharaan kata menyimak yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.
4. menyimak turut membantu sang anak untuk menangkap ide utama yang diajukan oleh pembicara; bagi pelajar yang lebih tinggi kelasnya, membaca lebih unggul daripada menyimak sesuatu yang mendadak dan pemahaman informasi yang terperinci.

Membaca tanpa menyimak apa yang dibaca. Itulah yang kebanyakan yang dilakukan oleh orang. Pernah membaca paragraf yang sama sampai tiga kali diulang? Atau sudah selesai di paragraf terakhir tanpa tahu apa yang baru saja kita baca? Itulah yang disebut dengan membaca tanpa menyimak. Ini sama saja dengan mengendarai mobil berkilo-kilo meter tanpa ingat bagaimana kita mencapai jarak sejauh itu. Hal seperti itu sudah cukup biasa terjadi pada banyak orang.
Suatu studi dilakukan ilmuwan asal University of Pittsburgh dan University of British Columbia untuk mempelajari kebiasaan buruk tersebut. Mereka melakukan serangkaian eksperimen terhadap sejumlah pembaca. Pembaca dengan kebiasaan kurang menyimak diketahui cenderung memiliki hasil buruk saat mengikuti tes komprehensif. Mereka dalam kondisi yang disebut dengan "zooning out" atau keluar dari zona yang seharusnya diperhatikan. Faktor penyebabnya cukup banyak, salah satunya adalah kemajemukan teks atau tugas.
Hasil studi ini menginspirasi ilmuwan untuk melakukan riset lebih jauh mengapa "zooning out" terjadi dan bagaimana menghentikannya. Masalah ketidakseriusan membaca ini selintas terdengar sepele sekali. 
Dan akibatnya cukup fatal. Ada banyak keputusan yang dibuat salah sebagai imbas dari aktivitas membaca yang tidak diikuti menyimak konten bacaan dengan baik. Bayangkan kalau Anda seorang presiden dan membaca keputusan hukum tanpa menyimak saksama. Atau seorang dosen mengajarkan hal salah ke mahasiswanya hanya karena membaca tanpa menyimak dengan baik.
Kebiasaan membaca tanpa menyimak dengan baik banyak dilakukan orang.
Mata kita selalu membaca kata per kata, tapi pikiran kita kadang melayang entah kemana. Ada yang merasa lapar, haus, lelah, sehingga berpikir banyak hal dilakukan nanti.


3.   Hubungan Membaca dan Menulis

            Membaca dan menulis merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Menulis adalah kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseptif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasi dalam bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mencoba memahami gagsan, perasaan atau informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan tersebut.

            Membaca adalah suatu proses kegiatan yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu (Burns, 1985). Proses tersebut berupa penyandian kembali dan penafsiran sandi. Kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana, serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya (Anderson, 1986). Lebih dari itu, pembaca menghubungkannya dengan kemungkinan maksud penulis berdasarkan pengalamannya (Ulit, 1995). Sejalan dengan hal tersebut, Kridalaksana (1993) menyatakan bahwa membaca adalah keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambing-lambang grafis dan perubahannya menjadi bicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras. Kegiatan membaca dapat bersuara nyaring dan dapat pula tidak bersuara (dalam hati).

            Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafis tersebut (Bryne, 1983). Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis symbol-simbol grafis sehingga berbentuk kata, dan kata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap, dan jelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca.

            Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan karang-mengarang, pengarang menggunakan bahasa tulis untuk menyatakan isi hati dan buah pikirannya secara menarik kepada pembaca. Oleh karena itu, di samping harus menguasai topik dan permasalahannya yang akan ditulis, penulis dituntut menguasai komponen (1) grafologi, (2) struktur, (3) kosakata, dan (4) kelancaran.

Aktivitas menulis mengikuti alur proses yang terdiri atas beberapa tahap. Mckey mengemukakan tujuh tahap yaitu (1) pemilihan dan pembatasan masalah, (2) pengumpulan bahan, (3) penyusunan bahan, (4) pembuatan kerangka karangan, (5) penulisan naskah awal, (6) revisi, dan (7) penulisan naskah akhir.

Secara padat, proses penulisan terdiri atas lima tahap yaitu; (1) pramenulis, (2) menulis, (3) merevisi, (4) mengedit, dan (5) mempublikasikan.

1. Pramenulis
Pramenulis merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis melakukan berbagai kegiatan, misalnya menemukan ide/gagasan, menentukan judul karangan, menentukan tujuan, memilih bentuk atau jenis tulisan, membuat kerangka dan mengumpulkan bahan-bahan.
Ide tulisan dapat bersumber dari pengalaman, observasi, bahan bacaan, dan imajinasi. Oleh karena itu, pada tahap pramenulis diperlukan stimulus untuk merangsang munculnya respon yang berupa idea tau gagasan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, misalnya membaca buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain.
Penentuan tujuan menulis erat kaitannya dengan pemilihan bentuk karangan. Karangan yang bertujuan menjelaskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan eksposisi; karangan yang bertujuan membuktikan, meyakinkan, dan membujuk dapat disusun dalam bentuk argumentasi dan persuasi. Karangan yang bertujuan melukiskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan deskripsi. Di samping seorang penulis dapat memilih bentuk prosa, puisi, atau drama untuk mengkomunikasikan gagasannya.

2. Menulis
Tahap menulis dimulai dari menjabarkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan. Ide-ide dituangkan dalam bentuk satu karangan yang utuh. Pada tahap ini diperlukan berbagai pengetahuan kebahasaan dan teknik penulisan. Pengetahuan kebahasaan digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa, dan pembentukan kalimat. Sedangkan teknik penulisan diterapkan dalam penyusunan paragraf sampai dengan penyusunan karangan secara utuh.

3. Merevisi
Pada tahap merivisi dilakukan koreksi terhadap keseluruhan paragraf dalam tulisan. Koreksi harus dilakukan terhadap berbagai aspek, misalnya struktur karangan dan kebahasaan. Struktur karangan meliputi penataan ide pokok dan ide penjelas serta sistematika penalarannya. Sementara itu aspek kebahasaan meliputi pemilihan kata, struktur bahasa, ejaan dan tanda baca.

4. Mengedit
Apabila karangan sudah dianggap sempurna, penulis tinggal melaksanakan tahap pengeditan. Dalam pengeditan ini diperlukan format baku yang akan menjadi acuan, misalnya ukuran kertas, bentuk tulisan, dan pengaturan spasi. Proses pengeditan dapat diperluas dan disempurnakan dengan penyediaan gambar atau ilustrasi. Hal itu dimaksudkan agar tulisan itu menarik dan lebih mudah dipahami.

5. Mempublikasikan
Mempublikasikan mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama, berarti menyampaikan karangan kepada public dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertian yang kedua disampaikan dalam bentuk noncetakan. Penyampaian noncetakan dapat dilakukan dengan pementasan, penceritaan, peragaan, dan sebagainya.

Gaya Tulisan Berasal dari Membaca


Riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca. Untuk lebih tepatnya, kita memperoleh gaya tulisan, bahasa khusus penulisan, dengan membaca. Kita sudah melihat banyak bukti yang menegaskan hal ini: Anak-anak yang berpartisipasi dalam program membaca-bebas, menulis dengan lebih baik dan mereka yang melaporkan bahwa semakin banyak mereka membaca semakin baik tulisannya


Ada alasan lain untuk memperkirakan bahwa gaya penulisan berasal dari membaca. "Argumen kompleksitas" berlaku pula untuk penulisan: Semua cara di mana bahasa tertulis "resmi" berbeda dengan bahasa yang lebih informal terlalu rumit untuk dipelajari satu per satu. Bahkan walau pembaca mengenali tulisan yang baik, para peneliti tidak berhasil menjabarkan secara lengkap tentang apa persisnya yang membuat tulisan yang "bagus" itu bagus. Oleh karena itu, masuk akal untuk mengatakan gaya penulisan tidak dipelajari secara sadar, melainkan umumnya diserap, atau secara tidak sadar diperoleh, lewat membaca.


Hunting (1967) memaparkan riset untuk disertasi (tidak dipublikasikan) yang menunjukkan bahwa kuantitas tulisan tidak berkaitan dengan kualitas tulisan. Banyak sekali kajian yang menunjukkan bahwa meningkatnya kuantitas tulisan tidak mempengaruhi kualitas tulisan. Nah, tentang gaya tulisan berasal dari membaca bukan dari menulis, sejalan dengan yang diketahui tentang kemahiran berbahasa: Kemahiran berbahasa diperoleh melalui masukan (input), bukan keluaran (output), dari pemahaman, bukan hasil. Dengan demikian, jika Anda menulis satu halaman sehari, gaya tulisan Anda tidak akan meningkat. Akan tetapi, hal baik lain bisa dihasilkan dari tulisan Anda, sebagaimana yang akan kita lihat dalam pembahasan berikut.


Beberapa Pendapat Mengenai Hubungan Membaca dengan Menulis
Berikut ini adalah beberapa pendapat orang-orang yang sering menulis di blog mengenai hubungan membaca dengan menulis.
Apabila banyak membaca maka kalau kita membuat suatu tulisan maka akan dengan mudah untuk mengembangkan suatu tulisan. menulis suatu tulisan lebih baiknya diawali dengan membaca terlebih dahulu. (Hakim, 2008).
Semakin banyak membaca semakin lancar pula menulis. (Nita, 2008).
Membaca akan menjadikan kita punya bahan untuk nulis. (Sholeh, 2008) .
Harus seimbang antara membaca dan menulis, artinya, kita jangan hanya membaca saja tapi juga sebaiknya menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan. (Finazli, 2008)
Jika anda ingin menjadi penulis–atau setidaknya mampu menulis dengan baik dan kreatif–yang harus Anda lakukan hanyalah dua hal : banyak membaca dan banyak menulis. Tak ada yang lain. (Irfani, 2008)

4.   Hubungan Menulis dengan Berbicara

            Berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbahasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat langsung.

            Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi yang dalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari satu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam symbol-simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gofur, 6 : 2009)

            Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan nonkebehasaan. Aspek kebahasaan terdiri atas; ucapan atau lafal, tekanan kata, nada dan irama, persendian, kosakata atau ungkapan, dan variasi kalimat atau struktur kalimat. Aspek nonkebahsaan terdiri atas; kelancaran, penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat, dan sikap.

Langkah-langkah yang harus dikuasai oleh seorang pembicara yang baik adalah:
1. Memilih topik, minat pembicara, kemampuan berbicara, minat pendengar, kemampuan mendengar, waktu yang disediakan.
2. Memahami dan menguji topik, memahami pendengar, situasi, latar belakang pendengar, tingkat kemampuan, sarana.
3. Menyusun kerangka pembicaraan, pendahuluan, isi dan penutup.

5.       Hubungan Berbicara dengan Membaca
Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi.

Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1994:2) menuliskan hubungan penting antara membaca dan berbicara antara lain:
1. performasi membaca berbeda sekali dengan kecakapan bahasa lisan.
2. kalau, pada tahun-tahun permulaan sekolah, ujaran membentuk suatu pelajaran bagi pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi turut membantu meningkatkan bahasa lisan mereka, misalnya: kesadaran linguistic mereka terhadap istilah-istilah baru, struktur kalimat yang baik dan efektif, serta penggunaan kata-kata yang tepat.
3. kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Andaikata muncul kata-kata baru dalam buku bacaan/buku pegangan murid, maka sang guru hendaknya mendiskusikannya dengan murid sehingga mereka mnemahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.


Membaca artinya adalah menggerakkan dan mengaktifkan fungsi indera informasi yang terdapat pada tubuh manusia yaitu mata dan telinga. Desain bentuk manusia yang diciptakan oleh Tuhan, menempatkan mata dan telinga sebagai pintu masuk informasi yang diperlukan oleh otak supaya bisa memberikan intruksi kepada syaraf tubuh untuk menggerakkan indera yang lain.


Berbicara artinya proses dimana otak memberikan intruksi kepada syaraf bicara untuk mengulang informasi yang telah didapat melalui mata dan telinga agar dapat bebentuk suara dan dapat ditangkap oleh orang lain sebagai informasi. Proses berbicara harus didahului dengan proses membaca dan ini akan terus terjadi secara berulang-ulang.


Kemampuan dan kemauan membaca mutlak diperlukan oleh semua individu yang memikirkan peningkatan kemampuan diri dengan terus menerus tanpa mengenal batas waktu, baik dalam memulainya ataupun dalam mengakhirinya. Berfikir terlambat untuk memulai belajar membaca adalah hal yang tidak seharusnya ditanamkan pada diri sendiri karena hal itu akan menyebabkan sebuah rasa rendah diri muncul ketika berada pada sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan orang-orang yang berwawasan.


Berbeda dengan membaca, kemampuan berbicara memerlukan suatu kondisi yang sangat mendukung dalam pelaksanaannya. Untuk menunjukkan kemampuan berbicara dan mengemukakan pendapat diperlukan latihan yang terarah serta materi yang memadai. Kemampuan berbicara seseorang juga tidak terus menerus digunakan dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendapatkan kemampuan berbicara yang memadai, umumnya seseorang harus terbiasa dahulu dengan sebuah lingkungan yang memiliki aturan yang kuat secara hierarki. Lingkungan tersebut dapat berupa organisasi massa atau lingkungan kerja.


Kemampuan membaca harus dijalankan terlebih dahulu sebelum kemampuan berbicara dimiliki. Kemampuan membaca ini akan menciptakan daya pikir yang menyukai analisa atas sebab suatu hal. Peningkatan daya pikir yang memperkuat analisa akan membuat kemampuan berbicara jauh lebih baik meskipun seseorang tidaklah rutin melatih kemampuan berbicaranya. Kemampuan berbicara tidaklah selalu dijadikan indikator dari tingkat intelegensi seseorang karena mengarang kata-kata bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Sebaliknya kemampuan membaca bisa dijadikan indikator kekuatan intelegensi seseorang karena melatih kemampuan membaca butuh usaha keras dan konsistensi seumur hidup.



DAFTAR SUMBER INTERNET









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar